Rabu, 01 Maret 2017

Tentang Nenek Imah

Hari itu seperti biasa, aku terbangun dikala azan subuh berkumandang. kubawa langkahku kearah sumur yang berada di belakang rumah melewati ruang tengah lalu ke dapur yang menjadi satu bagian dengan ruang makan. rumahku tak sebesar yang orang-orang punya, hanya sepetak tanah peninggalan suami, beratap genteng dan berdinding anyaman bambu. baru beberapa tahun belakangan ini lantai rumah kami beralaskan semen. ditemani lampu yang temaram redup ku perhatikan kembali rumah ini, sedikit teringat memori bersama anak-anakku dulu. sekarang mereka semua sudah berkeluarga hanya si bungsu yang memang mengabdikan diri untuk terus bersamaku tinggal di rumah ini.

si bungsu membantu perekonomian keluarga ini agar tetap berjalan dengan membuka warung klontong di depan rumah, sesekali dia membuat bakso ikan dan pempek untuk di jual di warung klontong. setelah solat subuh, seperti biasa aku menyapu halaman depan rumah kami yang sepetak sambil menyapa beberapa tetangga yang berlalu lalang di depan rumah untuk memulai beraktifitas. hari ini matahari begitu terik, sepagi ini cahayanya sudah memasuki rumah kami yang kecil. selesai semua urusan rumah biasanya aku hanya menemani anak si bungsu yang belum bersekolah, terkadang aku teringat si manis anak tetangga yang aku asuh sejak dia masih kecil, mari kuceritakan tentang si manis. hari itu seperti biasa pagi hari di dapur aku menyiapkan sarapan untuk anak-anak ku sebelum semuanya pamit untuk berangkat kerja. dari samping rumah kami yang berhubungan dengan jalan di gang seberang terdengar lari kecil sambil di seret, suaranya amat khas sambil berlari riang anak itu berteriak "neneeeeek" dengan riang gembira, kusambut dengan senyum kecil sambil memotong bumbu tumisan. "assalamualaikum nenek.." iya dia si manis, yang selalu hadir tepat waktu ke rumah ini. sebelum jam tujuh pagi si manis akan berlari kecil di samping rumah ku sambil berteriak memanggilku, kebiasaan yang tak pernah dia lupakan. dua bersaudara itu, si manis dan kakaknya. mereka adalah anak dari seorang guru di lingkup desa kami. kedua orang tuanya bekerja setiap hari sehingga mereka mengamanahkan kedua anaknya untuk di asuh keluarga kami. sejak kecil mereka sudah aku anggap sebagai cucu sendiri, si kakak pada umur setahun sedang si adik yang manis sejak berumur empat puluh hari sudah kami asuh ketika kedua orang tua mereka bekerja. sejak suamiku masih hidup merekalah cucu yang paling di tunggu kehadirannya di rumah ini, meskipun setiap hari kami bertemu. aku jadi teringat ketika itu, kami makan bersama dan si kakak berebutan piring dengan anak kami si bungsu, lalu suamiku menengahi dengan membiarkan kakak yang menggunakan piring tersebut. setiap suamiku pulang memancing dan mendapatkan kepiting muara tidak lupa untuk kami bagi, karena keluarga guru itu sudah kami anggap sebagai anak sendiri. ketika suamiku meninggal keluarga guru itu sedang mudik ke kampung halamannya, memang begitu kebiasaan mereka ketika ramadhan tiba mereka akan pulang ke jawa membawa kakak dan si manis bertemu dengan keluarga besar di kampung. kasihan si manis ketika dia kembali kesini dia tidak menemukan lagi kakek kesayangannya, mungkin jika saat ini si manis mengingat memori apa yang kakek tinggalkan tidak banyak, karena memang masih terlalu kecil waktu itu. dia menangis bersedih, betapa kehilangannya dia atas kepergian suamiku. sekarang setelah bertahun-tahun kepergian suamiku kakak dan si manis pun lekas beranjak dewasa. mereka sudah menjadi anak rantauan seperti kedua orangtuanya. mencari ilmu di kota pelajar sana yang sampai saat inipun aku belum pernah menginjakan kaki untuk menjenguk mereka di rantauan, namun ketika libur tiba itulah waktu yang selalu kutunggu keduanya akan silih berganti menemui ku di rumah ini. yang tersisa saat ini hanya kenangan-kenangan kakak dan si manis. mereka adalah cucu-cucu ku. 



Cerita ini utuk Nenek Imah di rumah, tiba-tiba malam ini saya kangen nenek. libur kemarin saya hanya sebentar mampir di rumah. saya tau nenek sudah tak semuda dulu, gigi nenek semakin berkurang, begitu juga dengan penglihatan, semoga nenek selalu dalam lindungan Allah SWT, semoga nenek sehat selalu. terimakasih atas dedikasi nenek, atas kasih sayang nenek setiap hari selama masa kecil saya, membuat saya menjadi pemberani. tunggu sebentar ya nek, saya belum jadi apa-apa belu bisa kasih apa-apa semoga nenek berumur panjang, aamiiin.


Dari sepersusuan seluruh cucu nenek, wit luv! 
Yogyakarta 1 Maret 2017


Ternyata sudah tujuh tahun, dari tulisan ini dibuat. Sekarang nenek sudah tiada, menyusul kakek disemayamkan di pinggir pantai tempat yang paling nenek takuti.
Hari itu 15 September 2022, tujuh bulan usia kehamilanku si manis cucu nenek. Pagi hari di grup keluarga ibu memberi kabar bahwa nenek sudah berpulang. DEG! Hatiku tidak boleh sedih terlalu mendalam karena keadaan hamil ku yang sedikit rewel, namun tidak dapat dipungkiri berkabung ku seminggu lebih lamanya. Sampai tidak berani mengucapkan bela sungkawa untuk anak-anak nenek. Dan rasa ingin hadir itu tidak boleh muncul...

Sudah sejak lama dan memang sudah tua Nenek Imah mengalami penurunan kesehatan, mulai dari pendengaran yang berkurang, sedikit pikun sampai, matanya yang terus berair karena penglihatannya memang sudah jauh tidak seperti dulu lagi. Kalau mengenang cerita tentang nenek diakhir hidupnya. Nenek menderita katarak, matanya berkabut setiap saat juga begitu silau pandangannya ketika terpapar cahaya. Suatu saat saat ku kunjungi sebelum hari pernikahanku nenek berkata "lid, besok nenek nggak dateng acara kamu aja lah ya". "Loh kenapa nek?" Tanyaku heran. "Nenek ini matanya udah nggak bisa lihat, nih keluar air mata terus.." sambil mengelap air mata yang keluar di matanya. "Lah ya nggak papa nek, kan besok naik motor, masak nenek jalan. Lagian tempatnya kan juga cuma deket di situ nekkk.. nanti nenek tinggal bonceng beres" kataku menjelaskan. "Ya nenek ini udh nggak kuat jalan sama silau ini kalo kena matahari rasanya tuh kyak di slorot sama senter" dengan logat jasengnya yang khas nenek cerita. "Kalo nggak nenek berjemur paginya pakai kacamata hitam aja, tuh pinjem punya marda apa nesya" kataku terkekeh, nenek pun ikut tertawa sambil menolak ideku.

Lalu nenek berpulang tampa bertemu cicitnya, yaitu anakku. Semoga nenek diampuni segala dosanya, diterima segala amalnya di berikan tempat terbaik.. di jauhi dari siksa kubur dan didekatkan dengan nikmat kubur. Aamiiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar